Rabu, 22 Juli 2015

Friendship

Kita sebagai manusia tak kan mampu hidup seorang diri. Oleh karena itu kita membutuhkan sahabat dalam menapaki kehidupan ini. Banyak alasan seseorang menjalin persahabatan dengan orang lain. Namun tidak semua alasan-alasan tersebut mampu menjadi fondasi kuat dalam menjalani persahabatan hingga di akhirat nanti. Inilah beberapa alasan persahabatan tersebut dibangun : 
1. Taaruffan
Persahabatan yang terjalin secara kebetulan, seperti pernah bertemu di LRT, stadium, hotel, hospital, media sosial, ATM, dan lainnya.
2. Taariihan
Persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu kelas, satu sekolah, satu asrama, dan sebagainya.
3. Ahammiyyatan
Persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu seperti rekan bisnis, politik dan sebagainya.
4. Faarihan
Persahabatan yang terjalin karena faktor hobi, seperti teman futsal, badminton, memancing dan sebagainya.
5. Amalan
Persahabatan yang terjalin karena kerja, misalnya sama-sama guru, doktor, arsitek dan sebagainya.
6. Aduwwan
Sahabat tetapi musuh, di depan kita sangatlah baik lagi tapi bila di belakang kita sebaliknya.
Seperti firman Allah, "Kalau kamu memperoleh kebaikan (kemakmuran dan kemenangan, maka yang demikian) menyakitkan hati mereka dan jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira dengannya." (Ali'Imron 3:120)
Rasulullah s.a.w berdoa, "Ya Allah, selamatkanlah aku dari sahabat yang bila melihat kebaikanku dia bersembunyi tetapi bila dia melihat keburukanku dia sebarkan.”
7. Hubban limaanan
Sebuah ikatan persahabatan yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang karena Allah, saling menolong, menasihati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam di penghujung malam, ia mendoakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah swt.
Dari 7 macam persahabatan di atas, 1 - 6 akan lenyap di akhirat. Namun hanya ada 1 ikatan persahabatan yang kekal yaitu persahabatan yang ke-7.
Persahabatan yang terjalin karena Allah seperti firman Allah, “Pada hari itu sahabat-sahabat karib, setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan taqwa (iman dan amal soleh)." (Az-Zukhruf 43:67)
Semoga dieratkan lagi persahabatan kita kerana Allah. Aamiin. ^_^

The Last is The Begining

Semilir membelai sang bayu membisikkan pesan, membuatku terhentak dalam kebimbangan yang menyergap dan tiba-tiba langkah ini pun terhenti, sesaat kucermati kembali jalan jauh membentang yang telah terlewati dan kembali ku pandang ke depan jalan membentang yang samar oleh kabut yang menyelimuti. Ku pejamkan mataku, ku benamkan jiwaku dan kubasahi bibirku dengan namaNya. Sungguh segalanya telah berubah dan keputusan telah dibuat, hingga tak berdaya jiwa ini untuk merubahnya. Inikah tarbiyah kesabaran dan keikhlasan dariNya ?

Namun perjalanan ini belum berakhir. Ini hanya bagian dari episode perjalanan yang harus kuakhiri. Bagaimanapun diriku harus membuat keputusan dari setiap pilihan dalam kehidupan. Ku hempas getirku untuk membuka genggaman tanganku, semakin nyata ku sadari bahwa sesungguhnya tiada yang pergi atau hilang dari genggaman. Ternyata selama ini di balik erat genggamanku yang tersimpan hanyalah hampa. Seketika jantung berdegup tak menentu, lidah kelu dalam beku, dan raga dingin terbasuh peluh.

“It’s time…it’s time…”, bisikku dalam jiwa. Perlahan tapi pasti, kurangkai kembali serpihan-serpihan jiwa yang terserak. Apapun yang terjadi perjalanan ini harus ku lanjutkan. Untuk terakhir kalinya ku pandangi paras polos tersebut yang berdiri jauh di ujung sana dan kusampaikan senyumku padanya. Sebenarnya kian terkoyak setiap kali menatapnya, seorang perempuan sebaya yang akan menyempurnakan diennya. Namun layaknya pohon besar yang kokoh nan rimbun, diriku harus tetap kembali berdiri tegap di atas kakiku sendiri serta memberikan manfaat dan meneduhkan bagi orang-orang di sekelilingku dengan cinta, tanpa terkecuali terhadap perempuan sebaya tersebut. “I must be strong girl. Bismillah…I can…I can…”


Dengan langkah gontai, ku rengkuh kompasku (read: Sholat) dan ku cermati kembali peta perjalananku (read : Al Qur’an). Helaan nafas ini terasa begitu berat, tapi kini tekatku telah bulat. Diriku akan mengubah rencana perjalanan selanjutnya serta menutup episode ini dengan Hamdalah, inilah akhir episodeku dan awal episode bagi yang lain. Diriku akan membuka episode baru dengan cerita, perjalanan dan orang-orang yang berbeda. “Bismillah…, open eyes, open mind and open heart. Let’s move up !”